Karpet Merah Revolusi Sudah Dibentangkan di Gedung YTKI

Kamis, 05 Januari 2012 , 19:22:00 WIB

Laporan: Ade Mulyana
IST

RMOL. Karpet merah yang menutup lantai auditorium Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan seperti menemukan padanannya.

Ruangan yang dijejali sekitar 200 orang itu, tiba-tiba saja ‘memanas’. Padahal di luar hujan mengguyur Jakarta dengan derasnya. Namun semangat perubahan dari hadirin yang datang dari berbagai latar belakang itu, bak menyesaki tiap centimeter ruang. Demikian bersemangatnya mereka, bahkan kata “perubahan” yang selama ini digadang-gadang bagai tak lagi cukup. “Revolusi!” adalah kata yang mereka anggap pas untuk mewakili kegeraman terhadap rezim yang kini berkuasa.

Kamis, 5 Januari 2012, bisa jadi sejarah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik akan diukir dari gedung ini. Sebuah pertemuan lintas latar belakang digelar dengan tajuk Kongres Perubahan. Mereka yang hadir ada mahasiswa, buruh, petani, tokoh agama, ekonom, dan lainnya. Tidak tanggung-tanggung, tagline yang diusung adalah “Hentikan Rezim Korup, Kekerasan, dan Pendusta”. Kata demi kata berwarna merah darah dan hitam legam dari kalimat itu tertulis dengan amat jelas pada sebuah backdrop raksasa berukuran 3x9 m bertengger dengan gagah di dinding depan.

Tumpukan dolar Amerika yang berserak menjadi ilustrasi untuk ‘Rezim Korup’. Sedangkan ‘Rezim Kekerasan’ diwakili dengan gambar aksi demo yang dihadang barikade polisi dan moncong senjata yang mengarah ke para demonstran. Oya, masih ada ilustrasi di bagian ini, seorang demonstran digotong polisi dengan dihadiahi bogem mentah, tendangan polisi, dan popor senjata. Sementara itu, gambar demonstran yang bertopeng wajah SBY lengkap berhidung panjang Pinokio melengkapi kata ‘rezim pendusta’. Sebuah penggambaran yang amat pas!

Banyak tokoh yang hadir. Tapi tidak semua dari mereka sempat berbicara. Maklum, waktunya memang amat ketat. Intelektual muda Yudi Latif, pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, kyai muda Maman Imanulhaq dari Cirebon, Romo Kristo, dedengkot Ikatan Alumni UI (Iluni) Hariyadi Darmawan adalah beberapa saja di antara para tokoh yang bicara. Juga ada tokoh Papua dan buruh ikut urun rembuk. Dan, tentu saja, tokoh nasional perubahan Rizal Ramli tidak ketinggalan. Maka lengkaplah acara yang dimoderatori duet Indro Tjahyono aktivis 1978 dan Koordinator Indonesia Bersih Adhie M Massardi. Kongres ditutup dengan pembacaan Seruan Nasional oleh mantan aktivis 1998 Kasino.

Cukup Bicara!

Para tokoh yang disebut dan tidak disebut tadi berbicara saling melengkapi. Benang merah yang mereka sampaikan adalah, bahwa rezim sekarang sudah abai terhadap rakyatnya. Rezim sekarang lebih suka berkhidmat kepada para majikan asingnya yang menjajah lewat ekonomi. Mereka juga sudah sampai pada kesimpulan, revolusi adalah sebuah keniscayaan!

“Demokrasi sudah diselewengkan. Mari kita ubah demokrasi dengan cara yang benar agar bisa menyejahteraan rakyat. Untuk itu, langkah pertama dan utama adalah segera hentikan rezim ini!,” kata Yudi Latif.

“Kita sudah banyak sekali diskusi-diskusi. Saya kira cukup berbicara. Kita sudah harus beraksi. Sekarang waktunya berbuat! Sekali lagi kita harus melakukan revolusi sosial, supaya tidak diadu domba. Saatnya revolusi,” ujar Hariyadi Darmawan, pria sepuh yang hari itu datang dengan tongkat.

Seperti gayung bersambut, KH Damanhuri menambahkan perlunya dilakukan berbagai persiapan untuk melakukan perbuatan. “Sudah sejauh mana persiapan kita untuk melakukan perubahan? Kalau semuanya memang sudah siap, jangan tunggu-tunggu lebih lama lagi. Bismillah, Allhu akbar,” pekik Damanhuri yang disambut yel-yel hadirin.

Ukir Sejarah

Rizal Ramli yang juga Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan mengatakan, bisa jadi orang-orang yang berkumpul di YTKI saat itu tidak sadar, bahwa mereka sedang mengukir sejarah. Pasalnya, sering orang salah beranggapan, bahwa sejarah hanya dibuat oleh para pahlawan atau orang-orang terkenal dan besar.

“Waktu Kongres Pemuda 1928, pesertanya sedikit dan bukan orang-orang yang terkenal. Namun mereka militan. Dari sini gerakan kemerdekaan dikuatkan. Baru beberapa waktu kemudian sejarah mencatat mereka sebagai para pahlawan. Hari ini, kita akan mengukit sejarah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik,” tukas Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian yang sejak awal getol mengusung ekonomi konstitusi.

Terkait perubahan, eh ... revolusi yang mengencang di forum itu, Rizal Ramli justru melontarkan pertanyaan kepada para audien. “Apakah kita akan membiarkan rezim ini bertahan sampai 2014?”

"Tidak!!!" jawab peserta kongres dengan menggelegar.

“Kalau begitu, mari kita rapatkan barisan. Bersama seluruh elemen rakyat, kita akan lakukan perubahan dengan cara-cara damai. Ingat, ini bukan people power. Kita akan menggalang people movement, gerakan rakyat. Sebagaimana gerakan rakyat Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan. Perjuangan kita tidak akan berhenti pada seruan-seruan saja, kita akan ikuti dan dorong dengan berbagai aksi konkret di lapangan,” ujar Rizal Ramli yang disambut dengan pekik ‘revolusi’ dari hadirin sambung-menyambung, bergulung-gulung. [dem]

Sumber : http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2012/01/05/51143/Karpet-Merah-Re...