Jadikan Krisis sebagai Momentum Melompat

WAWANCARA KHUSUS

Di tengah perekonomian yang sedang lesu akibat tekanan dari dalam dan luar negeri, sektor riil harus bangkit sebagai pilar kekuatan ekonomi. Sektor maritim dan sumber daya merupakan sektor riil yang harus dikelola untuk menyerap tenaga kerja dan memberi nilai tambah bagi negara. Penggabungan kekuatan sektor maritim dan sumber daya itu menjadi target Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman, yang dipilih Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Indroyono Soesilo.

Bagi Rizal, pengalamannya sebagai Menteri Koordinator Perekonomian (2000-2001) menjadi modal untuk membenahi persoalan koordinasi lintas kementerian. Konsolidasi menjadi kata kunci. Para menteri boleh saja berdebat dalam rapat pengambilan kebijakan. Namun, saat kebijakan sudah diputuskan, semua menteri harus satu suara.

Menangani bidang maritim dan sumber daya adalah hal baru bagi pria berlatar belakang ekonomi finansial ini. Bahkan, ia sempat ragu menerima tawaran itu. Namun, ia berjanji melakukan terobosan terbaik. Berikut ini petikan wawancara Kompas dengan Rizal di kediamannya di Jakarta, Kamis (13/8).

Saat ini perekonomian Indonesia sedang melemah. Apa tantangan pemerintahan sekarang?

Kita sedang merosot dalam bidang ekonomi, baik karena faktor eksternal, tetapi lebih banyak karena internal. Namun, saya selalu percaya dengan adagium bahwa krisis dan peluang itu satu mata uang. Di satu sisi krisis, di sisi lainnya kesempatan. Pemimpin yang hebat menggunakan momentum krisis untuk melompat jauh ke depan. Saya percaya, krisis ini merupakan kesempatan melakukan transformasi di Indonesia.

Bagaimana memanfaatkan krisis sebagai peluang?

Tantangan pertama, terkait krisis, perlu ada kepercayaan. Bagaimana membangun kepercayaan dari masyarakat, kalangan bisnis, dan dunia internasional. Kedua, melakukan tindakan yang berani. Masalah di Indonesia terlalu rumit, sepertibenang kusut yang ditarik malah makin kusut.

Kita mesti berani melakukan strategi dan terobosan agar sektor riil menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. Pemerintah tidak perlu selalu mengeluarkan uang. Contohnya, turisme. Jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia hanya 9 juta orang, kalah jauh dibandingkan dengan Thailand yang sebanyak 25 juta orang.

Saya sudah targetkan Kementerian Pariwisata agar turis yang datang 15 juta dalam lima tahun. Bagaimana caranya, strategi, dan dukungan infrastruktur akan dibahas pekan depan. Turisme menciptakan banyak lapangan pekerjaan, seperti hotel, makanan, produk kreatif, dan cendera mata. Tentu, infrastruktur harus dibantu dan keluar dari Bali karena di Indonesia masih banyak lokasi wisata yang bisa dikembangkan.

Kedua, perhubungan. Saat krisis ekonomi pada tahun 1998 yang masih terasa hingga tahun 2000, jumlah penumpang pesawat turun 50-60 persen. Akan tetapi, tiga maskapai milik negara tidak mau menurunkan harga, padahal penumpang anjlok. Kami lalu melakukan terobosan, yaitu mengizinkan perusahaan penerbangan swasta nasional. Dampaknya hebat, biaya per penumpang per kilometer bisa turun 50-60 persen. Rakyat yang tidak bisa naik pesawat akhirnya bisa naik pesawat. Jumlah penumpang naik 4-5 kali lipat. Ini contoh mengubah Indonesia dengan terobosan strategi dan kebijakan.

Ketiga, sektor perikanan. Saya nilai langkah Menteri Kelautan dan Perikanan sudah berani mengatasi pencurian ikan yang merugikan negara. Beliau sudah melakukan shock therapy kepada pencuri ikan. Tetapi, langkah itu masih perlu dilanjutkan. Harus segera diinstitusikan supaya penegakan hukum lebih efektif.

Bagaimana menjawab tantangan sektor maritim terkait pemerataan pembangunan antarwilayah?

Kita akan mendorong pembangunan di wilayah timur. Untuk pembangunan infrastruktur, dana APBN lebih baik dioptimalkan untuk luar Jawa, baik pembangunan kapal, pelabuhan, dan pelabuhan udara. Untuk Pulau Jawa, kita tidak perlu menggunakan APBN. Kita buat sistem di mana ada kompetisi internasional investor. Misalnya, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, Tiongkok dan Jepang berminat investasi. Kita adu saja soal teknologi. Cari yang paling baik, murah, dan nilai tambah paling tinggi.

Memang dari proyek-proyek infrastruktur kerap ada beking pejabat yang ingin berbisnis. Saya tidakakan terpengaruh beking proyek di belakangnya, kita cari yang paling baik dan menguntungkan Indonesia.

Bagaimana Anda menerjemahkan gagasan tol laut?

Secara bertahap, kita adakan pelayaran reguler antarpulau. Tidak cukup dengan pelabuhan, tetapi juga shipping line yang meningkatkan volume perdagangan antarwilayah Indonesia. Pelayaran reguler harus diikuti dengan pengembangan ekonomi wilayah. Kita harus dorong pusat-pusat pertumbuhan baru agar transportasi antarpulau sejalan. Perusahaan kapal juga harus didorong kompetitif.

(BM LUKITA GRAHADYARINI)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Agustus 2015, di halaman 1 dengan judul "Jadikan Krisis sebagai Momentum Melompat".

http://print.kompas.com/baca/2015/08/15/Jadikan-Krisis-sebagai-Momentum-...