Wawancara DR. Rizal Ramli : Kita Bisa Balikkan Keadaan ke Arah yg Lebih Baik

AKTUAL Edisi 38 / Juli 2015

Mantan Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Era Gus Dur, Rizal Ramli dikenal sebagai “Sang Penerobos” karena ide-idenya yang berani namun tepat sasaran, mendasarkan kepentingan rakyat pada keputusannya. Salah satu prestasi gemilangnya adalah membawa perusahaan plat merah PLN secara finansial dari minus Rp9 triliun menjadi surplus 119,4 Triliun tanpa mengeluarkan modal sedikitpun kala itu. Lalu bagaimana pandangan pria yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Negara Indonesia (BNI) ini melihat krisis ekonomi yang berada di depan mata? Berikut wawancara tim Aktual dengan beliau

Melihat perkembangan perekonomian global,bagaimana pendapat bapak terkait pemerintahan presiden Joko Widodo yang belakangan ini kerjasama investasi condong ke poros Jakarta-Beijing?

Kerjasama Indonesia-Beijing itu bukan hal yang baru, sejak jaman pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kerjasama itu sudah ada. Selain itu, tidak ada keinginan eksplisit untuk membentuk poros Jkt-Beijing. Jokowi tahu perekonomian global saat ini sedang berubah. Perekonomian global sekarang multipolar, memiliki banyak pusat kekuatan. Memang dahulu ada kekuatan Rusia-Amerika, namun setelah perang dingin, Amerika seolah menguasai semuanya. Tapi belakangan ini, perekonomian

global memiliki banyak polar (kutub.Red) baru, ada eropa, rusia, china, dan sebagainya. Saya sendiri ingin Indonesia menjadi kutub tersendiri. Bisa kok, karena Indonesia itu negara yang hebat.

 

Bagaimana terkait usaha pemerintahan Jokowi yang belakangan ini sering menjalin kerjasama pinjaman dengan Tiongkok?

Pinjaman yang dilakukan pemerintah-Tiongkok itu harus dilakukan secara hati-hati.Pasalnya kemampuan pemerintah dan swasta ada batasnya. Seperti contoh, pinjaman perusahaan BUMN Garuda Indonesia dengan Tiongkok senilai USD4,5 miliar untuk pembelian pesawat baru airbus 350. Pesawat tersebut termasuk jenis long range, artinya pesawat yang mampu melakukan penerbangan antar benua, seperti Jakarta-Eropa. Namun, pengalaman garuda selama ini dengan rute Jakarta- Netherland selama ini merugi, kok ini melakukan pinjaman. Menurut saya, alangkah baiknya jika Garuda Indonesia membeli pesawat jenis regional saja. Konsolidasikan pasaran dalam negeri, baru ke regional seperti Asia. Singapura saja kalah dengan Emirat dan Qatar, itu karena mereka memiliki banyak kantong yang digunakan untuk mensubsidi agar bisa menurunkan harga dan dapat bersaing di pasar global.

Saya ingat, Garuda Indonesia itu nyaris bangkrut sampai Indonesia diancam kalau tidak bayar maka pesawat akan disita. Dengan berbagai usaha, akhirnya masalah tersebut teratasi. Nah sekarang, Garuda Indonesia sudah bagus, tapi sekarang mau dihajar lagi lewat pinjaman luar negeri yang tidak pada tempatnya, beli pesawat bukan pada jenisnya. Terlalu berbahaya jika BUMN terlalu banyak pinjaman. Syarat yang menyertai pinjaman tersebut bakan merugikan Indonesia.

 

Anggaran yang ada tidak cukup dibiayai APBN, sebagian diperkukan pinjaman luar negeri seperti Amerika dan Tiongkok?

Anggaran yang diajukan DPR terlalu ambisius, pemerintah juga terlalu ambisius. Pilihannya adalah mengurangi proyek pembangunan infrastruktur atau melakukan pinjaman lagi. Ketika meminjam, kita bisa melakukan ke Bank Dunia atau pembiayaan dari Tiongkok. Namun, ketika meminjam dari Bank Dunia, meskpipun dengan bunga murah, mereka akan meminta syarat ini dan itu, kebijakan sampai ke Undang- undang. Itu sama halnya dengan menjual kedaulatan kita.

Kedua, melakukan pembiayaan dari Tiongkok. Mereka tidak menggunakan syarat dan prasyarat, namun lebih pada tataran komersial. Sebaiknya memanng kita lebih cerdas menggunakan kesempatan. Ada cara lain memobiliasai modal Indonesia. Kalaupun terpaksa pinjam Bank Dunia, kita pertimbangkan betul. Kita gunakan syarat busines to busines saja.

Ketiga, jangan gunakan uang pinjaman secara gampang, asal beli barang yang tidak perlu. Padahal ga sanggup bayar, jangan seperti itu.

Perlukan pinjaman untuk menggerakkan perusahaan BUMN?

Saya akan prioritaskan cara- cara lain, pinjaman itu adalah cara konvensional. Lalu apa yang bisa kita lakukan selain melakukan pinjaman?

Pertama, kita dapat melakukan revaluasi aset BUMN setelah revaluasi bisa naik 4-5 kali. Pasalnya, aset BUMN itu nilainya masih secara historis. Setelah dilakukan revaluasi aset, maka modal BUMN akan meningkat besar sekali. Dengan modal yang besar, perusahaan BUMN bisa melakukan refinancing melaui global bond dsb. Bukan lagi melalui APBN, kita harus meninggalkan infrastruktur yang harus dibiayai APBN.

Kedua, saat ini penjualan ritel rata-rata merosot 30%. Artinya, ada exced kapasitas (kapasitas berlebih) industri sebersar 30 persen, banyak pabrik berhenti produksi. Pegawai masih dibayar. Ngapain bikin produksi barang namun tidak laku. Lebih bagus pabrik ditutup, tak bayar listrik, hanya bayar buruh saja.

 

Bagaimana melihat krisis ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia, apa yang seharusnya dilakukan?

Kita harus melihat krisis itu sebagai oportunity, krisis ekonomi dan kesempatan itu satu poin yang sama. Bagi pemimpin yang hebat, akan membuat krisis itu menjadi kesempatan untuk meloncat ke arah yang lebih bagus. Namun pemimpin yang payah, akan tenggelam bersama krisis.

Contoh sederhana. Musim hujan petani tak mau menanam cabe, karena faktor resiko diserang hama dan gagal panen, tapi saat musim hujan itulah cabai menyentuh harga paling bagus. Kalau musim biasa harga cabai murah. Orang yang berani akan mengambil kesempatan untuk menanam cabe di musim hujan. Memang dia harus mengatasi masalah hama, tapi setelah bisa melewati masalah tersebut, dia akan mampu menjual cabe dengan harga yang bagus, mereka akan kaya raya. Dalam perkembangan seperti gelombang, naik turun dan gejolak. Saat ini kita punya 30 persen kapasitas berlebih, rupiah jatuh, justru ini kita gunakan untuk meningkatkan eskpor. Pemerintah bisa membantu dengan memfasilitasi kredit eskport, namun pengusaha juga tidak serta merta seenaknya, harus dipilih yang benar-benar berusaha.

Bagaimana dengan asumsi makro yang disampaikan pemerintah pada awal pemerintahan pertumbuhan ekonomi di angka 5,7. Namun pada saat ini, bank dunia menyebut hanya menyentuh angka 4,7?

Memang asumsi makro pertumbuhan ekonomi kita masih dalam kondisi merosot terus. Yoy 4,7. Bottom-nya belum akan tercapai. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut belum tentu salah pemerintah Jokowi. Dua setengah tahun lalu, saya mengingatkan Pemerintah SBY akan permasalahan yang dihadapi menyangkut empat defisit. Pertama defisit nearca perdagangan, tadinya surplus akhirnya menjadi turun.kedua defisit transaksi berjalan. Ketiga defisit neraca pembayaran, dan terakir defisit anggaran. Sayangnya pejabat, ekonom,  media hanya bicara defisit anggaran, padahal yang berbahaya adalah tiga defisit tersebut (neraca pembayaran, perdagangam dan transaksi berjalan). Ini lebih berbahaya secara finansial, namun tidak dilakukan apa-apa. Ini yang akhirnya diwariskan ke pemerintahan Jokowi. Nah, sayangnya eforia timekonomi Jokowi terlalu berlebihan. Mereka tidak memperhatikan ekonomi Indonesia sedang bergeser dari hijau ke lampu kuning, bahkan sebentar lagi menuju lampu merah.Pemerintah Jokowi seharusnya mengambil langkah-langkah untuk mengatasi quatro defisit.

Bagaimana Cara agar pertumbuhan ekonomi bakal meningkat lagi?

Kami percaya bisa membalikkan ini dalam dua tiga kuartal. Prinsip utamanya, krisis itu adalah kesempatan. Mesti berani berpikir ‘out the box’. Kedua, memupuk ‘trust’ (kepercayaan). Pemerintah minta pedagang hingga perusahaan optimis tapi perdagangan terus menurun. Trust itu pertama menyangkut orang, track record dan kemampuan menangani krisis. Kedua harus berani mengambil bold inisiatif. Diperlukan inisiatif yang besar, tidak bisa yang biasa-biasa saja. Contohnya kenapa tidak disikat saja mafia impor pangan. Kalau pemerintah melakukan itu perubahan sistem kuota ke sistem tarif. Harga telur, kedelai, daging bakal turun 30 persen. Kalauhal itu dilakukan, harga kebutuhan pokok akan turun, rakyat akan senang, ini betul-betul pemimpin yang pro rakyat.

Kok tidak berani sikat mafia impor pangan ada apa? Pejabatnya hanya bisa menaikkan harga. Karena paragdigmanya hanya menaikan harga, golongan menengah tidak suka dengan hal itu. Indonesia bakal semakin tidak kompetetitif. Ganti paradigma pejabat dengan ‘turunin harga’. Bisa apa gak? Bisa banget. Karena banyak BUMN yang masih KKN.

 

Bagaimana melihat investasi asing yang mementingkan kepentingan asing denga investasi yang mementingkan kepentingan rakyat?

Pedoman utamanya adalah sebesar-besarnya Sumber Daya Alam itu dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Peran pemerintah harus besar. Untuk sektor manufaktur, bolehlah dimanfaatkan investasi asing. Tapi harus ada tranformasi teknologi. Karena sektor manufaktur menjanjikan tenaga kerja yang banyak. Namun yang terjadi saat ini adalah kemerosotan industrialisasi.

Saat ini, melemahnya nilai tukar rupiah bisa dimanfaatkan untuk menggenjot manufaktur, namun banyak juga hal lain menghambat. Biasanya dalam hal pembebasan tanah. Presiden Jokowi sudah ada kemajuan, jangan lagi ganti rugi, tapi ganti untung. Misalnya proyak infrastruktur. Wajar dong, rakyat diberikan keuntungan sedikit. Di India, rakyat selain mendapat uang tunai juga dapat saham. Konsepnya saya setuju dengan ganti untung. Pasalnya biaya penggantian tanah itu hanya 15 persendari total pembiayaan. Kalaupun naik, maksimal hanya 18 persen.Saat ini kita tidak bisa seperti dulu menggunakan tentara main gusur. Saat ini saatnya bagi pemimpin yang memiliki kreatifitas tinggi