Skandal Century : Kebijakan Kriminal dan Penyalagunaan Kekuasaan

 

Transkrip Wawancara DR. Rizal Ramli di Kabar Petang TV ONE

Jumat , 9 Mei 2014  Pukul 18.00

 

Pak Rizal ,

Hari ini tercatat sejarah Wakil Presiden pertama kali hadir di persidangan dalam kasus Century .

Apa point yang paling  anda tangkap dalam kesaksian Boediono pada hari ini ?

Maaf Pak Boediono masih muter – muter karena sebetulnya masalahnya  jauh sangat sederhana  bank ini tidak pantas untuk  dibail out karena ;

  1. Bank ini sudah dari dulu  bermasalah tinggal ditutup saja tidak perlu ribet.
  2. Bank ini relatif kecil yang kalaupun ditutup dampaknya itu nyaris  tidak ada  apa – apanya. Argumen yg mengatakaan akan berdampak sistemik itu argumen yang sama sekali  sangat menyesatkan .

Saya pernah sebagai Menko menyelamatkan Bank BII yang 6 - 7 kali lebih besar dari Bank Century dan itu kita lakukan tanpa bail out sama sekali .

Saya minta Bank Mandiri ambil over Bank BII, supaya ada  umbrella of confindence, kami ganti managemen, dan take over sementara. Dalam waktu 6 minggu, uang mengalir kembali ke BII, bank kembali stabil.

Bank BII pada waktu itu jauh lebih besar dari pada Bank Century, kasus Century ini sebetulnya masalah sangat sederhana karena  memang iktikatnya mencari ember bocor .

Dua tahun yang  lalu saya  mengunjungi Antasari di penjara Cipinang. Antasari bercerita, pada waktu itu ia Ketua KPK, bahwa suatu hari Pak Boediono datang sebagai Gubernur Bank Indonesia meminta ijin untuk bail out Bank Indover di negeri Belanda sebesar Rp 5 triliun dan ditakut–takuti kalau tidak dilakukan maka kepercayaan terhadap Indonesia rusak, rupiah  bisa anjlok, kepercayaan investor merosot dsbnya.

Pak Boediono tidak tahu bahwa pak Antasari  adalah asisten  Jaksa Agung Marzuki Darusman pada saat saya jadi Menko. Waktu itu, mereka saya utus ke Belanda dan diberitahu oleh Bank Central Belanda tidak usah khawatir kalau terjadi sesuatu, karena Bank Indover dijamin oleh Bank Central Belanda, tidak akan menimbulkan  gejolak.

Begitu Pak Boediono minta ijin untulk membail-out Bank Indover, Antasari mengatakan: ”kalau bapak lakukan bail out Bank  Indover Rp 5 triliun besok, sorenya saya tangkap”. Jadi Boediono ketakutan, berapa waktu kemudian  dicari ember kosong  lain yaitu Bank Century yang sebetulnya  kebutuhan dananya hanya sebesar dana pihak ketiga  hanya sekitar Rp 2 triliunan , kok bisa dibail-out Rp 6,7 triliun dari situ sudah sangat jelas bahwa ini memang upaya untuk membobol bank .

Pak Rizal,

Artinya anda menyebutkan tidak ada yang baru dari kesaksian Pak Boediono

Apakah skandal Century ini dengan  kehadiran Pak Boediono  di persidangan tidak akan bergerak kemana – mana pak  ?

Ya dari jawabannya itu masih muter-muter, mencoba melepas tanggung jawab .

Saya minta Pak Boediono ksatria, kasihan anak buah sudah masuk penjara dan ditangkap:“ Ngaku saja lah sebagai ksatria ”,  karena tanggung jawab itu ada di pempinan. 

Sederhana kok  ini bank  dana pihak ketiganya  hanya Rp 2 triliun masa di bail-out Rp 6,7 triliun pasti ada yang bocor.

 

Pak Rizal,

Saya mengutip sedikit ada pernyataan dari pihak Istana yang ikut juga  memantau jalannya  persidangan  kali ini bahwa Pihak Istana menyatakan  :” tidak ada yang lebih penting  dari pada melihat bahwa kesaksian Wakil Presiden Boediono di depan sidang akan menyingkirkan sejumlah  keraguan yang menuntun dari pandangan bahwa bail out Bank Century menyembunyikan niat buruk dari para pengambil keputusannya “.

Anda sepakat ?

Saya setuju sekali  dengan bung Ihsan Noorsy, jangan lupa  Bank Century ini memang sudah busuk, sudah rusak lama, dan tidak ada hubungannya dengan krisis bahkan kalau ditutup saja tidak ada efeknya sama sekali. Bank Century ini memang sengaja mau  dipakai sebagai ember kosong .

Pada waktu ketua KPK Antasari meminta BPK untuk melakukan audit, ketua BPK setelah Pak Anwar Nasution, adalah Pak Hadi Poernomo, wakilnya Pak Taufik Ruki teman dekat Pak SBY. Salah satu permintan pak Ruki adalah supaya jangan menyentuh NKRI, pak Hadi Poernomo yang mungkin juga  banyak masalah sepakat. Akhirnya BPK hanya melakukan  policy-audit atau audit kebijakan.

Kalau sudah audit kebijakan,  pak Boediono, Sri Mulyani pasti kena. BPK dengan sengaja tidak melakukan audit aliran dana. Padahal jika ikut  model investigasi kasus  Bank Bali, diaudit aliran dananya, dalam waktu 6 minggu akan ketahuan kemana saja uang Century mengalir. Kok bisa butuhnya hanya Rp 2 triliunan dana pihak ketiga, malah disuntik Rp 6,7 triliun dan itu berlangsung selama  8 bulan  sampai tahun 2009.

Dimana – mana di seluruh dunia  menyelamatkan bank itu biasanya hanya butuh waktu 1-2 hari.

Tidak ada di seluruh dunia, bank itu uangya ditarik bertahap pelan pelan sampai 8 bulan, kalau diaudit aliran dananya,  maaf pihak Istana, kalau diaudit  yang betul akan jelas uang itu buat dana politik, ini yang sengaja tidak dilakukan pada awal skandal Century.

 

Yang ke 2 adalah :  

Saya kaget ketika bu Sri Mulyani mengatakan data Bank Indonesia  tidak benar, tidak beres, diragukan, tapi kenapa  menyetujui  bail out berikutnya. Tadi juga dikatakan habis di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)  itu kan dilaporkan uang yang keluar  kepada Menteri Keuangan, kenapa bisa uang ditarik terus menerus dari Rp 2,7 triliun  sampai Rp 6,7 triliun dalam waktu 8 bulan, itu uang besar Rp 4 triliun.  Menteri Keuangan Sri Mulyani  kalau tahu betul bahwa data Bank Indonesia tidak benar atau meyesatkan  harusnya dihentikan proses pembayaran itu.

Di sini menurut saya ada hal–hal dimana semua pihak lempar tanggung jawab, karena mereka tidak mau bertanggung jawab. Mereka bagian dari proses skandal yang merugikan negara yang sangat besar.