Rizal Ramli Bertekad Teruskan Cita-cita Bung Karno dan Gus Dur

Written by Wantana on Friday, 07 June 2013 00:55   

JAKARTA (Waspada): Rizal Ramli menyatakan ingin meneruskan cita-cita Bung Karno dan Gus Dur. "Cita-cita Bung Karno Trisakti : Berdaulat Dalam Bidang Politik, Ekonomi dan Kebudayaan. Cita-cita Gus Dur : Kebhinekaan, Pluralisme dan Humanisme.

Demikian ungkap Ketua Umum Aliansi Rakyat Untuk Perubahan (ARUP) Rizal Ramli menyatakan tekadnya akan meneruskan cita-cita ajaran mantan Presiden Soekarno dan Abdurrahman Wahid yakni Trisakti dan Pluralisme/Humanisme. Ajaran Triksakti berupa

berdaulat dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan dan Kebhinnekaan menginspirasi dirinya untuk mengimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kalau Trisakti dan Pluralisme terus diperjuangkan, diperjuangkan dan diperjuangkan, saya sungguh yakin, bangsa Indonesia akan merasakan manfaat Pancasilan dan bersyukur menjadi bangsa Indonesia, “ ujar Rizal Ramli usai menghadiri peringatan hari lahirnya Bung Karno di gedung Pola Perintis Kemerdekaan, Jakarta Pusat, Kamis (6/6).

Rizal menambahkan sejarah Bung Karno dan ajarannya telah didistorsi pada masa Orde Baru, sehingga bangsa Indonesia tidak memperoleh penjelasan secara obyektif perjuangan Bung Karno. Karenanya jika ingin diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila harus terus diperjuangkan, diperjuangkan dan diperjuangkan, mengingat setelah Indonesia Merdeka Pancasila sudah diabaikan, bahkan dianggap sebagai jimat, namun tidak dirasakan manfaatnnya bagi bangsa.

“Hal itu terjadi karena UU dan kebijakan Negara bertentangan dengan Pancasila. Bagaimana bisa melanjutkan cita-cita Bung Karno dan Gus Dur? Karenanya saya ingin laksanakan cita-cita Bung Karno dan Gus Dur, Sebab jika terus memperjuangkan ajaran itu, maka Pancasila akan sangat bermanfaat dan bangsa akan dihormati sampai kapan pun, “ katanya.

Dalam kesempatan sama Ketua Yayasan Bung Karno Guntur Soekarnputra mengakui bahwa dalam era globalisasi saat ini telah terjadi krisis di Negara kapitalisme yang tanpa disadari, berdampak masuknya sistem neo-kolonialisme di Indonesia.

“Akibatnya Indonesia tidak berdaulat lagi dibidang politik, di bidang ekonomi sudah tidak berdikari dan di budaya sudah tidak berkepribadian lagi, “ katanya.

Guntur menambahkan, bahwa apa yang terjadi sekarang ini merupakan akibat dari pemerintah yang menggunakan sistem politik, sistem ekonomi dan sistem demokrasi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia musyawarah mufakat dan gotong royong.

“Itu kepribadian bangsa Indonesia musyawarah mufakat yang sudah ribuan tahun ada di Indonesia, tapi sudah ditinggalkan, “ katanya.(J07)

Sumber : http://www.waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id...