Kadin : Petani Sengsara, SBY Pro Neolib Harus Dilawan

 

RIZAL RAMLI

JAKARTA, BARATAMEDIA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pimpinan Rizal Ramli sebagai Ketua Umum yang baru terpilih priode 2013 – 2018 menegaskan sikapnya ; siap melawan sekelompok orang yang telah membawa perekonomian Indonesia menganut sistem neoliberal. Pasalnya, sistem neoliberal merupakan pintu gerbang awal perekonomian menuju neokolonialisme.

Pernyataan itu dikemukakan Rizal Ramli, pada saat acara “Dialog Akbar Ekonomi Indonesia”, dalam rangka pelantikan pengurus Kadin Indonesia priode 2013 – 2018 di Ritz  Carlton Hotel, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (28/01).

“Dialog Akbar Ekonomi Indonesia” itu dengan tema : “Presiden 2014, Kedaulatan Pangan dan Energi & Penegakan Hukum”.  Tampil sebagai nara sumber,  pengamat migas DR.IR.M.Kurtubi, DR.Rizal Ramli dan anggota DPR RI Melkias Markus Mekeng. Yang bertindak sebagai moderator Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Oesman Sapta.

Terkait adanya kebijakan pemerintahan SBY di bidang impor pangan yang merebak secara demonstratif pada tahun 2013, ternyata hal tersebut telah menuai kritikan keras dari publik. Bahkan alumni IPB (Institute Pertanian Bogor) dengan tegas menyatakan protesnya.

“Iimpor produk pertanian menyengsarakan petani Indonesia. Mengimpor produk pertanian, sayur, buah-buahan, ikan, daging sapi, sungguh suatu hal menyakitkan bagi petani di Indonesia karena apa pun alasannya, impor akan meruntuhkan motivasi petani dalam menghasilkan produk-produk pertanian. Kasihan petani-petani kita, mereka sulit untuk sejahtera,”, kata Bambang Hendroyono Ketua Himpunan Alumni IPB periode 2013-2017.

Hal tersebut dinyatakan melalui rilis Sekretariat HA IPB, sebagai sambutan  Bambang Hendroyono  pada saat dikukuhkan sebagai Ketua Himpunan Alumni IPB periode 2013-2017 di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Minggu 18 Agustus 2013

Bambang Hendroyono yang juga Dirjen Bina Usaha Kehutanan di Kementerian Kehutanan RI. itu   menyatakan, “IPB prihatin dengan besarnya jumlah impor produk pertanian di Indonesia”.

Seperti data yang dirilis Badan Pusat Statistik, untuk impor beras saja, selama Januari-Juni 2013, tercatat sebesar 239 ribu ton atau US$ 124,4 juta. Sementara itu, jagung impor masuk ke Indonesia selama Januari-Juni 2013 tercatat 1,3 juta ton atau 393 juta dolar AS. Demikian pula dengan impor kedelai, periode Januari-Juni 2013 adalah 826 ribu ton atau 509,5 juta.

Impor Tepung terigu juga dilakukan. Tercatat impor masuk secara Januari-Juni 2013 mencapai 82.501 ton atau 36,9 juta dolar AS. Dan bahkan garam pun termasuk komoditas yang diimpor. Selama Januari-Juni 2013 impor tercatat 923 ribu ton atau senilai 43,1 juta dolar AS.

Secara terpisah, Rizal Ramli, mantan Menteri Perekonomian era Presiden Gus Dur itu, dalam percakapan  dengan  BARATAMEDIA, Selasa (28/01) dengan tegas mengatakan, “Kadin Indonesia yang dipimpinnya ini akan berjuang mengembalikan ekonomi Indonesia berbasis konstitusi, yang kini dirasakan masyarakat telah menyimpang ke arah neolib”.

Indikasi praktek neolib kata Rizal antara lain,  “sejumlah kebijakan pemerintah SBY yang membuka kran impor sejumlah hasil pertanian telah menghancurkan kehidupan petani tradisionil di seluruh Indonesia”.

Yang sangat melukai hati petani,  “karena Kadin Indonesia pimpinan Suryo Bambang Sukisto (SBS) hanya tinggal diam. Tidak ada pembelaan kepada petani alias rakyat kecil”, kata Rizal.

Itulah sebabnya Kadin yang diketuai Rizal Ramli menuding pemerintah saat ini menganut sistem neoliberal. “Kadin Indonesia yang berbasis semangat konstitusi ini siap melawan siapa pun yang membawa ekonomi Indonesia menuju pintu neokolonialisme, tegas  Rizal Ramli. (eko)

Sumber : http://www.baratamedia.com/read/2014/01/30/56268/kadin-petani-sengsara-s...