Tragis : Somasinya Dicuekin, Wibawa SBY Makin Hancur

 

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

JAKARTA, BARATAMEDIA – Langkah SBY untuk  mengambil jalan pintas menggertak lawan politiknya melalui tradisi somasi, nampaknya akan berujung mengecewakan SBY sendiri.

Bahkan masyarakat luas menilai langkah SBY itu dianggap gegabah. Karena kenyataannya, mereka yang disomasi itu hanya cuek saja.

Salah seorang penerima somasi yang keukeuh  melawan SBY adalah mantan Menteri Perekonomian Rizal Ramli.

Langkah perlawanan Rizal Ramli tidak main – main. Dia didukung 200 orang pengacara yang tergabung di dalam forum Tim Pengawal Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat”.

Dalam percakapan dengan BARATAMEDIA, Selasa (28/01) di Jakarta, Ketua Umum Kadin Indonesia mengatakan, dirinya tidak gentar menghadapi somasi SBY. “Biarkan aja dia somasi, akan kita layani sampai dimanapun. Ini kan negara hukum. Maka kita akan mengikuti proses hukum”, kata Rizal mantap.

Seperti diketahui, bermula somasi itu ditujukan kepada salah seorang loyalis Anas Urbaningrum. Sri Mulyono pentolan ormas PPI (Perhimpunan Pergerakan Indonesia) bentukan mantan Ketua umum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum. Sri Mulyono dianggap memplesetkan pidato SBY dari Jedah tahun lalu ketika umroh.

Somasi kedua ditujukan kepada seorang tokoh kritis papan atas Rizal Ramli. Manta Menteri Perekonomian di era Gus Dur. Rizal disomasi karena mengeluarkan pernyataan tahun lalu yang menyebutkan, :jabatan Wapres Boediono itu adalah gratifikasi dari bailout Bank Century.

Dan yang sasaran somasi yang ketiga adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah. Anggota Komisi Hukum DPR RI ini disomasi karena meminta Ibas Sekjen PD diperksa KPK karena nama putra bungsu SBY sudah banyak yang menyebut terlibat dana Hambalang yang mengalir ke Kongres PD di bandung tahun 2010. Ibas adalah SC (Panitia Pengarah) Kongres PD kala itu.

Namun, apa yang terjadi? Ketiga orang tersomasi itu ternyata tidak gampang menyerah dengan “gertakan” SBY. Mereka serentak melakukan perlawanan terhadap SBY. Wibawa SBY malahan semakin tergerus. Soalnya somasinya itu malahan menimbulkan polemik hukum oleh para pakar hukum.

Palmer Situmorang yang ditunjuk sebagai pengacara SBY dinilai kurang mampu mengelola amanat yang diberikan SBY. Buktinya, kiriman surat somasinya malahan menuai cibiran publik. Palmer  malah dianggap telah menjerumuskan SBY menjadi musuh bersama masyarakat (common enemy)

Apa kata kuasa hukum SBY, Palmer Situmorang? Ternyata dia hanya bisa menyatakan akan bertemu kilennya untuk membahas langkah lanjutan terhadap somasi kepada mantan Menteri Perekonomian dan Keuangan, Rizal Ramli. Hal  ini disebabkan karena Rizal tak menjawab somasi kedua yang masa tengatnya berakhir 28 Januari lalu.

“Tentu kita harus bicarakan dengan klien langkah apa selanjutnya, langkah hukum atau seperti apa,” kata Palmer kepada media Rabu, 29 Januari 2014.

Pada saat ini, menurut Palmer, tim kuasa hukum memang belum berkoordinasi lagi setelah Rizal dan “Tim Pengawal Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat” tak memenuhi somasi. Palmer dan kawan kawan  masih butuh waktu koordinasi dengan kliennya. “Besok, kita baru akan diskusi dan rapat. Minggu depan kita ketemu klien,” ujar Palmer.

Ketua Tim Pengawal Demokrasi, Otto Hasibuan, sempat memaparkan mereka tak akan menjawab somasi karena masih perlu klarifikasi dan kepastian perihal kuasa yang ada pada Palmer cs.

Menurut Otto, Rizal perlu memastikan Palmer sebagai kuasa hukum presiden, pribadi atau keluarga Cikeas.”Kalau sebagai pribadi tak masalah. Tapi kalau sebagai keluarga, apa kaitan pernyataan Rizal dengan keluarga itu.”, tandas Otto Hasibuan. (Eko)

Sumber: http://www.baratamedia.com/read/2014/01/30/56278/tragis-somasinya-dicuek...