Rizal Ramli Doakan SBY

Senin, 27 Januari 2014 09:51 WIB
Rizal Ramli Doakan SBY
TRIBUNNEWS.COM/NET
Foto ekonom Rizal Ramli dan Presiden SBY 
 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) menyebut sejumlah orang yang selama ini memusuhi dirinya. Dalam buku berjudul Selalu Ada Pilihan, SBY memang tidak menyebut nama namun memberi sejmulah petunjuk melalui cerita yang cukup panjang lebar sehingga mengarah pada sosok tertentu.

Di halaman 147, sub-bab Musuh Menjadi Semakin Banyak, SBY menguraikan panjang lebar mengenai sosok yang disebut sebagai tokoh unik."Saya akan menutup topik ini dengan cerita tentang seseorang yang amat gigih melaksanakan 'kampanye anti- SBY'. Bahkan hingga buku ini diterbitkan, yang bersangkutan termasuk konsisten dan amat bersemangat untuk terus mendiskreditkan nama saya," ujar SBY

Rizal Ramli, mantan menteri di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketika ditanya apakah tokoh tersebut adalah dirinya, mengaku malas berkomentar. 

"Saya tidak tertarik untuk mengomentari secara detail karena sahabat saya itu sedang galau," katanya kepada Tribunnews, pekan lalu..

Rizal justru mengatakan SBY nyaris tidak memiliki legalitas karena prestasinya minimalis dan punya banyak potensi terkait kasus hukum.

"Kegagalannya untuk meningkatkan kesejateraan rakyat karena pilihan  dan dukungannya terhadap ekonomi neoliberal, sesuatu yg sudah saya ingatkan sejak 2004. Saya hanya bedoa semoga sahabat saya itu dibukakan mata dan hatinya untuk refleksi diri," ujarnya.

Untuk menguatkan kisah mengenai sosok orang tersebut, SBY menyebut nama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. "Setelah saya terpilih menjadi presiden di tahun 2004, ia pernah saya ajak untuk menjadi menteri. Tetapi ketika saya meminta Wapres Jusuf Kalla menghubungi yang bersangkutan, katanya tidak bersedia," kata SBY

Jusuf Kalla mengaku belum membaca buku karya SBY. "Yang mana? Saya belum baca bukunya," ujar Kalla ketika ditemui Tribunnews di kantor Rektorat Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (23/1) lalu.

Ketika disinggung mengenai orang-orang yang dikontak untuk menjadi menteri di Kabinet Indonesia Bersatu  I (2004-2009), Kalla mengakui memang sempat menghubungi beberapa nama calon  menteri. Namun ia menyatakan saat itu tidak yang menolak ketika disodori jabatan menteri.

Menurut Kalla memang ada tokoh yang kemudian meminta posisi lain. "Memang ada beberapa, tapi bukan menolak. Ada yang  hanya ingin jabatan lain," tuturnya.

Saat ditanya siapa yang sempat menolak dan meminta jabatan lain tersebut, Kalla menolak menyebutkan. Ketika disebut nama Rizal Ramli, Ketua Umum PMI itu hanya tertawa dan tetap enggan menyebut nama.

"Anda lho yang mengatakan itu ( Rizal Ramli), bukan saya," katanya. Ia menegaskan, terkait  Rizal Ramli  seharusnya tidak ada persoalan meski tidak menduduki posisi  menteri. Dikatakan, Rizal Ramli kemudian mendapatkan jabatan sebagai komisaris BUMN. "Beliau kan setelah itu menjadi komisaris (PT Semen) Gresik," tambahnya.

Saat ditanya soal permintaan Rizal Ramli untuk kembali diangkat menjadi menteri dan Gubernur Bank Indonensia (BI) namun tidak terpenuhi, Kalla enggan berkomentar. Begitu pula soal hubungan renggang  antara Rizal dan SBY, ia mengaku tidak mengetahui. "Kalau soal itu saya tidak tahu, tanya Pak SBY," katanya.

Mengenai posisi Rizal di BUMN, dalam bukunya SBY menyebutkan, "Setelah itu ia minta sebuah posisi di BUMN. Permintaan itu saya kabulkan karena yang bersangkutan memang punya kemampuan untuk itu. Kemudian setelah itu ia keluar dari posisi itu, kemudian minta posisi menteri di kabinet. Tentu tidak segampang itu saya melakukan penggantian menteri ".

Lebih lanjut disebutkan orang tersebut menyampaikan pesan lewat seorang anggota kabinet agar diangkat sebagai Gubernur Bank Indonesia. "Bahkan, yang lebih menyeramkan, ternyata ia sangat ingin menjadi wapres ketika Pak Boediono tengah digoyang secara politik karena urusan Bank Century," kata SBY.

SBY menyebut tokoh tersebut sebagai seorang menteri di era sebelum dirinya menjadi presiden. Seperti diketahui Rizal Ramli merupakan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan di Kabinet Persatuan Nasional era Presiden Abdurrahman Wadis (Gus Dur).

"Yang terakhir ini, mimpi untuk menjadi wakil presiden ini, ceritanya juga amat menarik. Begini," ujar SBY dalam bukunya. Menurutnya ada seorang pemimpin partai politik, yang juga mantan menteri di Kabinet Indonesia Bersatu, menanyakan soal rencana pergantian wakil presiden.

"Pak SBY, apa benar Bapak sudah setuju dan meminta dia untuk menjadi wakil presiden menggantikan Pak Boediono? "Ya dia mengatakan sudah bertemu Bapak, dan katanya Pak SBY sudah setuju. Dia minta dukungan partai yang saya pimpin," katanya.

Tak pelak SBY menggelengkan kepala. "Bagaimana mungkin saya berkata begitu. Di mana logikanya? Ada apa pula dengan Pak Boediono? Luar biasa," ujar SBY. (coz/bah/fer)

Sumber :