Rizal Ramli dan SBY

Jum'at, 10-01-2014 09:41

Rizal Ramli dan SBY : aktual.co
Rizal Ramli (Foto: Aktual.co/Istimewa)
Jakarta, Aktual.co — Pada tahun 1978, sebuah pasukan yang baru pulang dari upaya aneksasi Timor Leste, dalam keadaan psikologis yang ganas terhadap segala bentuk gerakan perlawanan (dari rakyat yang mereka jajah), datang dan menduduki kampus-kampus di Bandung pada saat perjalanan pulang ke markas di Jakarta. 
 
Kejadian militer menduduki kampus memang  baru pertama kali di Indonesia saat itu,  memberikan catatan teramat buruk pada sejarah demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia. 
 
Pada saat represif itu di Bandung, di ITB dan Unpad beredar dari mulut ke mulut lagu gerakan ciptaan Iwan Abdurahman  yang berjudul Mentari, yang kira-kira berbunyi:
 
Mentari bernyala di sini
Di sini, di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini, di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangiku
Bernyala, di dalam hatiku
Hari ini hari milikmu
Juga esok masih membentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Di sini, di urat darahku
 
Lagu tersebut melambangkan harapan  mahasiswa saat itu yang sedang melawan (meskipun sedang tiarap karena kampus diduduki tentara dan aktivitas belajar dihentikan) menolak Jenderal Suharto menjadi presiden kembali – yang sudah lebih dari 10 tahun berkuasa (de facto sejak 1967). 
 
Di kampus ITB yang sedang diduduki militer itulah kemungkinan besar pemuda Rizal Ramli (RR) dan pemuda Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersinggungan untuk momentum kali pertama. Namun tentu dalam posisi yang bertentangan, RR mahasiswa yatim piatu yang bekerja sambil kuliah di ITB dan menjadi pemimpin mahasiswa, dan SBY sebagai seorang menantu dari Gubernur Akademi Militer di Magelang, Sarwo Edhie Wibowo . 
 
RR akhirnya ditangkap karena perlawanan politiknya dan kemudian dipenjarakan oleh Orde Baru di Penjara Sukamiskin, tempat Bung Karno juga dipenjara Belanda pada tahun 1930-an, dengan alasan hukum yang sama juga dengan Bung Karno: menghina Ratu Belanda/Presiden. SBY akhirnya menikah dengan Kristiani Herawati (puteri jenderal Sarwo Edhie) setelah tangannya “berlumuran darah” karena melanggar hak asasi manusia di Timor Leste dan ITB.
 
Momentum kedua terjadi menjelang 1998, 20 tahun sejak masa kelam tersebut. Kali ini situasi politik sudah sangat berbeda, rezim Orde Baru telah rapuh karena meluasnya perlawanan gerakan demokratik dari berbagai sektor rakyat. Saat itu RR telah menjadi ekonom yang terpandang dan SBY telah menjadi perwira tinggi militer yang juga terpandang. Keduanya bertemu di sebuah apartemen di Jakarta, berdiskusi tentang situasi nasional dalam suatu kesepahaman, bahwa PERUBAHAN harus terjadi- Suharto harus lengser. Dan benar, Suharto pun lengser setelah 32 tahun mencengkeram rakyat Indonesia dalam kuku fasisme-nya . 
 
Sebenarnya bagi RR, perjuangan Reformasi adalah perjuangannya sejak lama memperjuangkan PERUBAHAN, perbaikan kondisi rakyat Indonesia yang sangat dicintainya. Sedangkan bagi SBY, mungkin alasannya pragmatis belaka: meneruskan cita-cita Sarwo Edhie Wibowo menjadi Presiden Indonesia, membalas dendam kepada Suharto. 
 
Mereka berdua sempat menjadi menteri di bawah Kabinet Pemerintahan Gus Dur. Namun sial bagi RR, saat Gus Dur dilengserkan oleh sisa-sisa kekuatan Orde Baru pada tahun 2001, ia harus ikut lengser dari posisi menteri- pada saat sedang melakukan renegosiasi yang bersejarah dengan Freeport. 
 
Bagi SBY adalah keberuntungan, karena ia masih menjadi menteri di kabinet “neolib era Reformasi” yang sangat didukung oleh tentara.
 
Momentum ketiga terjadi pada saat pilpres 2004. Kali ini SBY dan RR bertemu lagi. SBY sebagai capres dan RR sebagai salah tim suksesnya. Pada tahun 2004 untuk kali pertama Indonesia memilih langsung presidennya, dan dimenangkan oleh SBY. 
 
RR pun setelah beberapa saat dijadikan SBY sebagai Presiden Komisaris PT Semen Gresik.  Namun, beberapa tahun kemudian, di tahun 2008, posisi keduanya kembali bertentangan dalam hal kebijakan pencabutan subsidi bahan bakar. 
 
RR pun dicopot dari jabatannya dan bahkan sempat nyaris dipenjarakan oleh SBY karena dipandang mengganggu ketertiban (mirip dengan apa yang dilakukan Orde Baru terhadap RR 30 tahun sebelumnya). Pertentangan politis itu pun terus terjadi hingga kini. 
 
RR menuduh SBY melakukan perampokan Bank Century dibantu oleh Boediono pada tahun 2008-2009 dengan alasan krisis global, sementara tuduhan ini dipandang SBY sebagai pencemaran nama baik sehingga perlu menyewa pengacara untuk “menertibkan” RR kembali belum lama ini. Jadi pada tahun 1978 SBY “menertibkan” RR dan kawan2 mahasiswanya dengan popor senapan dan lars sepatu, sedangkan tahun 2008 dan 2014  SBY mencoba kembali “menertibkan” RR dengan polisi dan pengacara.
 
Itulah ketiga momentum yang cukup unik tapi penting di antara RR dan SBY, yang perlu diketahui oleh banyak pihak. Memang pernah terdapat kerjasama, namun lebih banyak terjadi pertentangan di antara keduanya. Hal ini tidak lain karena RR beraliran ekonomi konstitusi yang anti neoliberal, sedangkan SBY pro terhadap neoliberalisme (atau setidaknya membiarkan karena mungkin tidak paham, bila tidak ingin dibilang sebagai pemuja neoliberal). 
 
Sebagai penutup, disimpulkan bahwa: 1) RR konsisten memperjuangkan PERUBAHAN sejak 1978, sedangkan SBY lebih sering menindas PERUBAHAN; 2) RR menulis dan menerbitkan Buku Putih –suatu konsep ekonomi politik yang anti korupsi dan anti neoliberal- saat mahasiswa, sedangkan SBY   menerbitkan album lagu saat menjadi Presiden dari sistem pemerintahan yang korup dan neolib; dan 3) RR membawa mentari bagi rakyat, sedangkan SBY membawa kegelapan bagi rakyat. 
 
Penulis: Subandi
 
Sukardjito -