Rizal Ramli, Capres Paling Dekat Rakyat


Sabtu, 18 Januari 2014 - 16:34 WIB

Jakarta - "Kalo abang  nanti, awak bangga ada calon presiden duduk-duduk dengan kita di sini," kata wartawan lain yang disambut koor amiiin… panjang.

"Rizal Ramli, cocok kali," sambung seorang wartawan lain yang nongkrong di Warkop Jurnalis, Jl. H Agus Salim, Medan, Sabtu (18/1/2014).

Kalimat khas Medan tersebut spontan meluncur ketika mereka tahu, bahwa yang duduk-duduk bersama mereka saat itu adalah Capres peserta Konvensi Rakyat Capres 2014. Buat mereka, Rizal Ramli adalah sosok yang tepat memimpin Indonesia ke depan. Kapasitas dan integritasnya tidak perlu diragukan. Rekam jejak keberpihakannya pada ekonomi kerakyatan yang dibingkai konstitusi terbaca dengan benderang, baik ketika masih di luar, di dalam maupun setelah selesai dari lingkaran kekuasaan.

Sekitar 20 wartawan siang itu ngobrol santai dengan Rizal Ramli, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid. Warung kopi beratap terpal plastik biru tua yang sudah sobek di sana sininya itu kontan jadi lebih meriah daripada biasa. Tokoh nasional yang jadi ikon perubahan tersebut duduk santai di meja panjang. Di kanan-kiri dan persis di depannya sejumlah wartawan berkerumun mengerubutinya.

Di meja berserakan gelas-gelas kosong dan setengah kosong berisi kopi, teh, sirup, dan lainnya. Juga ada beberapa komputer jinjing dalam posisi on. Sebagian lain jari-jari mereka sibuk dengan smartphone-nya. Biasa, sambil ngobrol para wartawan juga langsung menulis berita.

Dengan kemeja putih lengan pendek dipadu jeans biru, lelaki yang telah menjadi yatim piatu sejak usia 6 tahun ini benar-benar santai. Tawa lepasnya berkali-kali meledak ketika wartawan melemparkan joke-joke ringan. Kadang-kadang justru dia yang melempar canda dengan cerdas dan jenaka. Keruan saja tawa wartawan pun kian bertaburan dengan meriah.

"Nantilah, kita ngobrol-ngobrol dulu. Ada tokoh nasional. Awak pulang tak bawa berita, rugi kali," tukas wartawan berkulit gelap dan berambut gondrong yang persis duduk di sebelah Menteri Keuangan era Gus Dur itu.

Itu adalah tolakan wartawan untuk kesekian kali, ketika diminta pindah lokasi ngobrol di kawasan Jalan Setiabudi, Medan. Maklum, panitia Konvensi Rakyat sudah menyiapkan tempat untuk jumpa pers antara wartawan dan peserta konvensi di tempat yang lebih representatif. (Sof)